Jadilah Aku Sebentar wae

Jadilah aku sebentar saja

“Madu itu tak slalu manis, aku tahu rasanya. Pahit, pahit sekali!” kekecewaan ku memuncak, 2 tahun sudah aku bertahan hidup bersamamu. Slalu kesepian, kecewa, tertekan dan beban perasaan.

Hidup bersamamu bangkitkan trauma masa kecilku. Dimana aku slalu berharap kasih kosong. tentang ibuku, ya tentang keluargaku. Berharap mereka bersatu pulang kepada kami. tak pernah ada bukti dari aku tak mengerti sampai hari ini sebab memang mereka sudah cerai. Aku tak mau itu dirasakan buah hatimu.

kamu bukan milikku?! tapi terbagi-bagi. pun waktumu! Walau begitu tak mungkin aku melupakanmu, juga tak mungkin jatuh ke lubang sama. Maafkan aku!!

Yang terang aku tak mau lagi. Tidak untuk hidup bersamamu. Apapun alasannya. Inilah akhir cerita kita. Maafkan aku. Terimakasih telah hadir menghiasi katalog hidupku. Kasihku tak berujung padamu…

“Cinta tak harus memiliki”, itu kata bibirmu

Jadi duri dalam hidupmu

“Aku tak rela”

Memang aku tak baik buatmu dan kamu tak cocok buatku. Aku selalu merasa tertekan. Olehmu, olehmu, pasanganmu dan pasanganmu.

Tak mau aku jadi pelakor, jadi seseorang selalu merasa bersalah.

Terabaikan pula oleh semua kepentingan. Tak ada totalitas perjuanganmu sepertiku terhadapmu. Kau bukan pemberani yang Kuraharapkan!

Jangan kau tanya, tentang kita! Tapi berjumpa untuk bahagia. Ku bahagia melihatmu.

Sukmaku terpelihara setelah pikirku terbebas. Jujur, kebebasanku kembali, pikirku nyaman sentosa.

“Tak punya energi ketika kubersamamu. Hampir semua terfokus untukmu! Dan ku tak bisa sepertimu yang terbagi” ketika kesadaran itu muncul aku lebih memilih sdiri saja.

Tak mempan lagi semar mesem terbalut kain kafan putih, tak mempan pula semar mendem. Sebab semar kakek babat tanah jawa jadi kakekku juga he…

“Sakit hati memang perih, sangat perih sakit sekali”

“Trus apa obatnya!”

“Maafkan dan lupakan saja…”

Tak mudah memang tapi hasilnya luar biasa. Sepadan dengan pahalanya.

Tak ada kebahagiaan hidup berpasangan, bila salah satu dari kita hatinya bercabang. Apapun alasannya!

Tahun baru kali ini penuh berkah. Hujan turun dengan derasnya, awet sepanjang malam tahun baru. Jadi adem, lebih khusuk berdoa. Ibukota bak eropa sebab berjuta manusia bertahan berpayung dan bermantel warna warni.

“Terimakasih Tuhan! Kau masih sayang pada kami!”

Aku lebih menikmati kesendirian saat ini. Ke inginan berduaan, lebih lama bersama menghabiskan waktu yang tak pernah terlaksana di masa itu biarkanlah….

kemerdekaanku dengan berbagai kejutan, bagai hujan yang turun kebumi, bebas dan banjir seperti awal tahun ini.

Pun semakin pagi semakin deras. Betapa gemercik air seperti ini membuatku lebih nyaman. Dan kau paham itu…

“tahun laluku begitu luar biasa…”

Tak mau kilas balik, niatkan pergi ke tahun tikus besi… apapun!!!

Biar ku tepi mimpi awal tahun. Berharap suatu aza, hadirkan kenyataan, bukan mimpi. Tapi benar berjuang bersama…

ku beranikan diri di posisi itu. Kutanya diri, Sanggupkah aku seperti harapan ketika aku di sana?

Pada dasarnya hidupku tak mau di ganggu! Tapi ketika aku hidup bersamamu, ada yang terganggu. Dan aku tahu rasanya di posisi itu! Aku rela, iklas…

Pun waktu berlalu, begitu saja. Nyatanya bisa! Tak begitu sulit, pundakku sedikit demi sedikit ringan, depresiku mengikutinya.

Itulah kita! Dan inilah aku….

Bersambung…

Tunggu!!!