Aksara Jawa

aksara Jawa merupakan alfabet paling unik di dunia ini.

Ditinjau dari jumlah…, terdiri dari 20 jenis huruf…, yang melambangkan 20 jari manusia.

Jari merupakan alat hitung manusia yang paling sederhana…., dan hal ini melambangkan bahwa dalam menjalani kehidupannya…, org Jawa selalu menggunakan perhitungan yang matang sebelum melangkah.

Deretan ke 20 aksara Jawa tersebut yaitu….:

1⃣ *Ha Na Ca Ra Ka.*

2⃣ *Da Ta Sa Wa La.*

3⃣ *Pa Dha Ja Ya Nya.*

4⃣ *Ma Ga Ba Tha Nga.*

Entah kebetulan atau disengaja…, deretan huruf di atas ternyata bukan deretan huruf tanpa makna…, tetapi membentuk 4 kalimat yang mengandung filosofi luar biasa…, yaitu….:

Melambangkan perjalanan hidup manusia.

➡ *Ha-na-ca-ra-ka….:*

Jika dibaca…, *Hana Caraka* akan bermakna…: *”Ada utusan”*.

Siapa yang dimaksud dengan utusan tersebut….?

Tidak lain adalah….: *manusia*.

Berbeda dengan pendpt umum…, bahwa utusan Tuhan hanya terbatas para Rasul saja…, bagi orang Jawa setiap manusia adalah utusan Tuhan.

Setiap manusia berkewajiban hamemayu hayuning bawana…, menjaga kelestarian alam…, memakmurkan bumi…, menciptakan kedamaian & keselamatan di alam dunia.

➡ *Da-ta-sa-wa-la…:*

Jika dibaca…, *Dat-a-suwala* akan bermakna…: ”Dzat yang tidak boleh dibantah”.

Siapa yang dimaksud…?

Tidak lain adalah….: *Tuhan Yang Maha Esa*.

Tuhan adalah…: Dzat yang tidak boleh dibantah oleh manusia yang menjadi utusan-Nya.

Sehebat apa pun manusia di bumi ini…, tidak ada yang mampu menandingi kekuasaan Tuhan.

Sekali lagi…, manusia hanya bersifat sebagai utusan…, bukan penguasa.

Oleh karena itu wajib untuk tunduk terhadap aturan yang sudah ditetapkan oleh Sang Pengutus…, yang sering disebut dengan istilah ”kodrat/hukum karma”.

➡ *Pa-dha-ja-ya-nya…:*

Jika dibaca…, *Padha Jayané* akan bermakna ”sama2 unggulnya”.

Siapa yang sama unggulnya….?

Yaitu….: *jasmani dan rohani*.

Dalam menjalankan perannya sebagai utusan Tuhan…, manusia wajib menjaga keseimbangan antara urusan jasmani dan rohani.

Seorang manusia tidak dibenarkan berkarya tanpa dilandasi niat ibadah…, karena bekerja dengan cara tersebut hanya melahirkan keserakahan…, yang membuatnya keluar dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Sebaliknya…, manusia juga tidak dibenarkan melakukan sembahyang saja…, tanpa disertai bekerja.

Orang yang melakukan sembahyang tanpa kerja…, sesungguhnya termasuk golongan egois.

Dia hanya mementingkan diri sendiri…, dengan harapan ingin masuk surga tetapi tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya…, termasuk keberadaan tubuhnya.

Seorang manusia sempurna (insan kamil) adalah….: dia yang bisa bekerja dengan dilandasi semangat ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Yang lebih menarik…, orang Jawa dalam beribadah tidak mengharapkan pahala…, karena semboyan hidup mereka adalah….: *narima ing pandum*.

Menerima pemberian-Nya….; sekali lagi…, ”menerima” bukan ”mengharapkan”.

➡ *Ma-ga-ba-tha-nga…:*

Merupakan singkatan dari *Sukma-Raga-Bathang…*, yang bermakna…: *”Ruh-Tubuh-Bangkai”*.

Maksudnya adalah…: kalimat ini merupakan akhir dari perjalanan manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi.

Jika roh meninggalkan tubuh…, maka yang tersisa hanya tinggal bangkai nya saja.

Dalam keadaan ini…, manusia sudah tidak lagi disebut manusia…, karena eksistensinya telah berakhir.

Kalimat terakhir ini mengingatkan manusia…, agar tidak terlalu membanggakan dirinya…, karena jika Sang Roh pergi meninggalkan tubuhnya…, maka yang tersisa hanya tinggal bangkai saja.

Kalimat ini mengingatkan manusia…, bahwa tubuh hanyalah kendaraan bagi Sang Roh dalam menjalankan perannya sebagai utusan Tuhan.

Tanpa roh…, raga hanya lah bangkai yang tidak berarti.

Leluhur nusantara memang hebat.

Bahkan antropolog bersepakat bahwa leluhur manusia saat ini adalah Homo erectus yang hidup di Pulau Jawa.